Awalnya tak ada keinginan sama sekali untuk menjadi seorang pendaki gunung. Saya tinggal di dekat kawasan Gunung Ciremai 3078 mdpl (meter diatas permukaan laut). Ciremai dengan gagah berdiri menantang. Setiap hari saya dapat melihat kegagahannya bahkan dari jendela rumah. Terkadang awan-awan bermain berputar-putar di sekitar puncaknya terlihat dari jauh. Terkadang ciremai malu-malu bersembunyi dibalik awan. Putih. Hanya itu yang terlihat.
Ada juga bukit-bukit kecil disekitar rumah yang tingginya maksimal 300an mdpl. Dari kesekian banyak bukukit itu hanya ada satu bukit yang pernah saya daki bersama teman-teman. Itu adalah bukit terpendek. Masih belum ada keinginan untuk mendaki gunung.
Entah apa yang menyebabkan ketertarikan saya untuk mendaki gunung. Terutama mungkin setelah saya bergabung dengan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Keinginan itu semakin menjadi.
Pendakian pertama. Gunung Ciremai yang dipilih. Dekat. Itu saja. Entahlah, naik gunung itu melelahkan sekali. Kita harus membawa perlengkapan yang tidak ringan. Perjalanan yang menanjak di jalur Apuy Majalengka membuat saya kelelahan. Pendakian pertama, jalur terberat grade ke-2 dari 3 jalur resmi, tas carrier yang besar dan berat adalah kombinasi yang cocok untuk membuat siapapun kelelahan.
Puncak gunung. Ya disitu saya lagi2 merasa kecil dibanding ciptaan-Nya, apalagi dibandingkan dengan Sang Pencipta. Saya tidak ada apa-apanya. Teman saya sujud syukur ketika sampai dipuncak sana, saya pun jadi tertarik untuk ikut sujud syukur. Kenapa bersyukur, ya bagi yang belum merasakan beratnya pendakian wajar bertanya seperti itu. Bersyukur karena masih diberi kesempatan salah satu dari keindahan-Nya. Bersyukur karena disadarkan bahwa kita memang kecil.
Setelah pendakian pertama yang masih berupa ambisi, berubah menjadi tujuan lain sampai saya melakukan beberapa pendakian. Masih digunung yang sama. Tapi saya mulai sadar. Bahwa mendaki gunung bukan melulu hoby. Tapi ini termasuk ibadah. Dzikir. Ketika dzikir di tempat konvensional seperti rumah atau masjid, bagi orang tertentu saja mungkin yang merasuk sampai kedalam hati dzikirnya. Tapi bagi kita, hanya sebatas dalam ucapan. Ketika mendaki gunung saya rasakan Allah memang besar, Allah memang Maha Indah, terlihat dari ciptaan-Nya. Dll. Tak sebatas terucap lewat mulut, tapi benar-benar merasuk sampai dalam hati. Bedanya, ketika dzikir di tempat konvensional, dari mulut lalu merasuk ke hati. Tapi ketika mendaki gunung, kata-kata itu keluar atas apa yang dirasakan oleh hati kita. Itu bedanya.
Mendaki gunung itu bukan hanya sekedar berbicara menaklukan gunung, bahkan jika saya tahu tiap jengkal dari gunung, itu masih belum dibilang sudah menaklukkan gunung. Mendaki gunung adalah cara tersendiri bagi orang-orang seperti saya dan beberapa yang lain untuk menambah keimanan mereka. Kalian yang membaca tulisan ini boleh tidak setuju. Apalagi yang belum merasakan mendaki gunung. Boleh. Karena ini pendapat pribadi saya atas apa yang saya rasakan dari kegiatan mendaki gunung. Karena menurut saya, yang namanya ibadah itu tidak melulu yang tertulis di rukun islam. Tidak memulu tentang ritual. Tapi selama kita menghadirkan Allah dalam segala apa yang kita lakukan selama tidak melanggar ketentuannya, itulah ibadah.
Salam
Ibadventure



