Sempat terbersit rasa iri jika melihat teman-teman yang mengejar cita-cita mereka menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. sering dalam hati ini bertutur, " waah enak sekali mereka, fasilitas lengkap, teman banyak, literatur dan pengajar yang mumpuni, andai aku juga kuliah ditempat mereka.." yah memang, di satu sisi saya iri dengan kemajuan teman saya, tapi bukan iri yang penuh dengan kebencian, ini adalah iri yang dipenuhi rasa bahagia karena bisa melihat teman-teman saya sesukses itu.
Sering saya lihat di social media teman-teman memajang foto-foto perjalanan sukses mereka, itu membuatku bahagia bahkan terkadang bulu kudukku ini ikut berdiri. Ditambah teman-teman yang sudah bisa mencari nafkah, aduuh saya belum apa-apa jika dibandingkan dengan mereka. mereka setidaknya sudah bisa berbakti pada kedua orang tuanya lewat jalan harta. Tapi apa yang saya lakukan..saya bukanlah apa-apa.
Di social media teman-teman sering share masalah tugas mereka yang jika saya baca dari temanya saja terdengar asing dan sulit. "pasti ilmu mereka lebih hebat dari saya" sempat terbersit pikiran macam itu.
Tapi dibalik semua itu, saya teringat akan kebesaran Allah. Inilah kebesaran Allah. dimana?? tentu saja ada dimana-mana. jika saya kuliah ditempat mereka, belum tentu saya dapat belajar dengan baik sebaik saya belajar di Almamater saya sekarang. Jika saya bekerja/usaha, belum tentu dapat saya bagi dengan kedua orang tua saya karena rasa ego yang masih tinggi. Untuk itulah Allah yang Maha Tahu menempatkan saya pada situasi seperti sekarang. Allah tahu bahwa saya lebih baik disituasi yang saya jalani sekarang.
Bisa saja kan, teman-teman justru menganggap kondisi saya yang enak dibanding mereka. Kuliah masih satu kota, sehingga bisa setiap hari bersua dengan keluarga. Teman kuliah yang lebih sedikit, karena mereka lebih suka kesunyian atau lebih gampang diingat dan ikatan pertemanan kami lebih dekat.
Bisa saja, disini saya anggap mereka Luar Biasa, tapi disana mungkin mereka justru anggap bahwa sayalah yang Luar Biasa..Mungkiin..hehe...
Untuk itu saya pun sadar, dan tidak mau berkecil hati.. Allah sudah memberi jalan sukses yang berbeda pada masing-masing individu.. Aku disini dengan jalan dan caraku.. dan engkau disana dengan jalan dan cara mereka tersendiri...
"Yang penting itu bukan jalan Tol atau jalan Perkampungan yang rusak, tapi yang terpenting itu apakah kita bisa melaluinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan penuh rasa syukur" - Ibad Muhamad Yusuf -


suka sekali dengan kata-kata ini: "Yang penting itu bukan jalan Tol atau jalan Perkampungan yang rusak, tapi yang terpenting itu apakah kita bisa melaluinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan penuh rasa syukur"
BalasHapusEnak ya kalo bisa saling share...
BalasHapus